Friday, April 4.

Header Ads

  • NEWS UPDATE

    Asyura: Antara Sunnah & Syiah (Bagian II)



    Asyura Zaman Nabi Muhamad
    Nabi Muhammad saw. hidup di Mekah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak masa biā€™tsah (pengangkatan Nabi & Rasul) tanggal 17 atau 25 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi, yang bertepatan dengan 6 atau 14 Agustus 610 M, hingga 1 Rabiā€™ul Awwal tahun ke-54 dari tahun kelahirannya atau tahun 13 kenabian, yang bertepatan dengan 13 September 622 M.
    Dari data di atas kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa selama hidup di Mekah sebagai Nabi & Rasul, beliau telah ā€œmengalamiā€ Asyura sebanyak 11 kali. Selama periode Mekah ini, beliau telah menyikapi Asyura dengan melaksanakan shaum.
    Ų¹ŁŽŁ† Ų¹ŁŽŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŽŲ©ŁŽ Ų±ŁŽŲ¶ŁŁŠ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡ŁŽŲ§ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽŲŖŁ’ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲŖŁŽŲµŁŁˆŁ…ŁŁ‡Ł Ł‚ŁŲ±ŁŽŁŠŁ’Ų“ŁŒ ŁŁŁŠ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ„ŁŁŠŁŽŁ‘Ų©Ł ŁˆŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł  ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ ŁŠŁŽŲµŁŁˆŁ…ŁŁ‡Ł
    Dari Aisyah, ia berkata, ā€œHari Asyura adalah waktunya shaum orang-orang Quraisy di zaman jahiliyah dan Rasulullah Saw. pun menshauminyaā€¦ā€ (H.R. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:704, No. 1898).
    Ų¹ŁŽŁ†Ł Ų§ŲØŁ’Ł†Ł Ų¹ŁŁ…ŁŽŲ±ŁŽ : Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų£ŁŽŁ‡Ł’Ł„ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŲ§Ł‡ŁŁ„ŁŁŠŁŽŁ‘Ų©Ł ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŁˆŲ§ ŁŠŁŽŲµŁŁˆŁ…ŁŁˆŁ†ŁŽ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽŲ„ŁŁ†ŁŽŁ‘ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł -ŲµŁ„Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- ŲµŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ‡Ł ŲŒ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŲ³Ł’Ł„ŁŁ…ŁŁˆŁ†ŁŽ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ł„ŁŽ Ų£ŁŽŁ†Ł’ ŁŠŁŁŁ’Ų±ŁŽŲ¶ŁŽ Ų±ŁŽŁ…ŁŽŲ¶ŁŽŲ§Ł†Ł
    Dari Ibnu Umar (ia berkata), ā€œSesungguhnya kaum jahiliyah melakukan shaum pada hari Asyura dan sesungguhnya Rasulullah Saw. beserta kaum muslimin melaksanakan shaum itu sebelum diwajibkannya shaum Ramadhanā€ (H.R. Al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:289, No. 8195).

    Setelah datang perintah berhijrah kepada Nabi saw., maka beliau melaksanakan perintah itu dan ditemani oleh Abu Bakar. Imam at-Thabari dan Ibnu Ishaq menyatakan, ā€œSebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabiā€™ul Awwal tahun 13 kenabian/24 September 622 M  waktu Dhuha (sekitar jam 8.00 atau 9.00). Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin Auf selama empat hari (hingga hari Kamis 15 Rabiā€™ul Awwal/27 September 622 M. dan membangun mesjid pertama (yang disebut mesjid Quba). Pada hari Jumat 16 Rabiā€™ul Awwal/28 September 622 M, beliau berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ā€˜Auf, datang kewajiban Jumat (dengan turunnya ayat 9 surat al-Jumā€™ah). Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat Jumat yang pertama di dalam sejarah Islam. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinahā€. (Lihat,Tarikh at-Thabari, I:571; Sirah Ibnu Hisyam, juz III, hal. 22; Tafsir al-Qurthubi, juz XVIII, hal. 98).

    Keterangan tersebut menunjukkan bahwa Nabi tiba di Madinah pada hari Jumat 16 Rabiā€™ul Awwal/28 September 622 M. Sedangkan ahli tarikh lainnya berpendapat hari Senin 12 Rabiā€™ul Awwal/5 Oktober 621 M, namun ada pula yang menyatakan hari Jumat 12 Rabiā€™ul Awwal/24 Maret 622 M.
    Terlepas dari perbedaan tanggal dan tahun, baik hijriah maupun masehi, namun para ahli tarikh semuanya bersepakat bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiā€™ul Awwal, bukan bulan Muharram (awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M).

    Memasuki bulan Muharram tahun ke-2 hijriah, Nabi saw. mendapati orang-orang Yahudi di Madinah melaksanakan shaum pada hari Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka mengenai hal itu, lantas mereka menjawab, ā€œPada hari ini Allah Swt. pernah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil atas (kejaran) Firā€™aun, maka Musa menshauminya.ā€ Rasulullah Saw. menjawab, ā€œKamilah yang paling berhak dengan Musa.ā€ Kemudian beliau shaum dan memerintah para shahabat agar menshauminya. Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Lihat, Shahih al-Bukhari, II:704, No. 1900)
    Perintah shaum Asyura pada masa awal hijrah itu dipertegas oleh keterangan Abu Musa sebagai berikut:
    Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų£ŁŽŲØŁŁ‰ Ł…ŁŁˆŲ³ŁŽŁ‰ - Ų±Ų¶Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹Ł†Ł‡ - Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł‹Ų§ ŲŖŁŲ¹ŁŽŲøŁŁ‘Ł…ŁŁ‡Ł Ų§Ł„Ł’ŁŠŁŽŁ‡ŁŁˆŲÆŁ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲŖŁŽŁ‘Ų®ŁŲ°ŁŁ‡Ł Ų¹ŁŁŠŲÆŁ‹Ų§ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł -ŲµŁ„Ł‰ Ų§Ł„Ł„Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł…- Ā« ŲµŁŁˆŁ…ŁŁˆŁ‡Ł Ų£ŁŽŁ†Ł’ŲŖŁŁ…Ł’ Ā».
    Dari Abu Musa Ra., ia berkata, ā€œHari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan dijadikan sebagai hari raya. Maka Rasulullah saw. bersabda, ā€˜Shaumlah kalian pada hari itu.ā€ (H.R. Muslim, Shahih Muslim, II:796, No. 1131)

    Kemudian Aisyah menjelaskan:
    ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…ŁŽŁ‘Ų§ ŁŁŲ±ŁŲ¶ŁŽ Ų±ŁŽŁ…ŁŽŲ¶ŁŽŲ§Ł†Ł ŲŖŁŽŲ±ŁŽŁƒŁŽ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų“ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲµŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų“ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲŖŁŽŲ±ŁŽŁƒŁŽŁ‡Ł.
    Ketika difardhukan shaum Ramadhan, beliau meninggalkannya (tidak shaum). Beliau bersabda, ā€œBarangsiapa yang hendak shaum, maka shaumlah. Dan barangsiapa yang hendak berbuka, maka berbukalah.ā€ (H.R. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, III:1434, No. 3727).

    Perkataan Aisyah di atas diperkuat oleh keterangan Ibnu Umar sebagai berikut:
    Ų£ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡Ł Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ ŁŁŁŠ ŲµŁŽŁˆŁ’Ł…Ł ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…Ł Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲØŁŽŲ¹Ł’ŲÆŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲ²ŁŽŁ„ŁŽ ŲµŁŽŁˆŁ’Ł…Ł Ų±ŁŽŁ…ŁŽŲ¶ŁŽŲ§Ł†ŁŽ : Ł…ŁŽŁ†Ł’ Ų“ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŲµŁŽŲ§Ł…ŁŽŁ‡Ł ŲŒ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŁ†Ł’ Ų“ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų£ŁŽŁŁ’Ų·ŁŽŲ±ŁŽŁ‡Ł.
    ā€œSesungguhnya Rasulullah saw. bersabdaā€”tentang shaum Asyura setelah turun kewajiban shaum Ramadhanā€”ā€˜Barangsiapa yang hendak shaum (maka shaumlah). Dan barangsiapa yang hendak berbuka (maka berbukalah).ā€ (H.R. Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:387, No. 3622).

    Dari berbagai keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada mulanyaā€”ketika tahun pertama Nabi saw. berada di Madinahā€”shaum ini hukumnya wajib. Namun setelah datang kewajiban shaum bulan Ramadan pada tahun ke-2 hijrah, shaum ini beralih hukumnya menjadi sunat, dan ketika itu pelaksanaannya hanya satu hari tanggal 10 muharram.
    Memasuki masa akhir periode Madinah, ketika para sahabat telah merasa kurang nyaman melakukan shaum Asyura yang sama persis dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani, Nabi saw. mencanangkan untuk melakukan perbedaan. Ibnu Abas mengatakan:
    Ł„Ł…ŁŽŲ§ŁŽŁ‘ ŲµŁŽŲ§Ł…ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ  ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ ŁˆŁŽ Ų£ŁŽŁ…ŁŽŲ±ŁŽ ŲØŁŲµŁŽŁŠŁŽŲ§Ł…ŁŁ‡Ł Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ : ŁŠŁŽŲ§ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł Ų„ŁŁ†ŁŽŁ‘Ł‡Ł ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŒ ŲŖŁŲ¹ŁŽŲøŁŁ‘Ł…ŁŁ‡Ł Ų§Ł„ŁŠŁŽŁ‡ŁŁˆŲÆŁ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł†ŁŽŁ‘ŲµŁŽŲ§Ų±ŁŽŁ‰. ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : ŁŁŽŲ„ŁŲ°ŁŽŲ§ ŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų¹ŁŽŲ§Ł…Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŁ‚Ł’ŲØŁŁ„Ł Ų„ŁŁ†Ł’ Ų“ŁŽŲ§Ų”ŁŽ Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł ŲµŁŁ…Ł’Ł†ŁŽŲ§ Ų§Ł„ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų§Ł„ŲŖŁŽŁ‘Ų§Ų³ŁŲ¹ŁŽ . Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł’ ŁŠŁŽŲ£Ł’ŲŖŁ Ų§Ł„Ų¹ŁŽŲ§Ł…Ł Ų§Ł„Ł…ŁŁ‚Ł’ŲØŁŁ„Ł Ų­ŁŽŲŖŁŽŁ‘Ł‰ ŲŖŁŁˆŁŁŁŁ‘ŁŠŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ
    "Ketika Rasulullah saw. melakukan Shaum Asyura dan beliau memerintah (para sahabat) untuk melakukannya. Mereka berkata, ā€™Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu merupakan hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasraniā€™ Beliau menjawab, ā€™Nanti tahun depan (12 H) insya Allah kita akan melaksanakan shaum tanggal sembilannyaā€™ Ia berkata, ā€˜Tetapi tahun depan itu belum datang Rasulullah saw. telah berpulang keharibaan-Nya (tahun 11 H).ā€ (HR. Muslim, Shahih Muslim, II:797, No. 1134;  Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:327, No. 2445)

    Di dalam riwayat lain, Ibnu Abas mengatakan dengan redaksi :
    Ł‚Ų§ŁŽŁ„ŁŽ Ų±ŁŽŲ³ŁŁˆŁ„Ł Ų§Ł„Ł„Ł‡Ł  ŲµŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł‰ Ų§Ł„Ł„ŁŽŁ‘Ł‡ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ŁˆŁŽŲ³ŁŽŁ„ŁŽŁ‘Ł…ŁŽ  Ł„ŁŽŲ¦ŁŁ†Ł’ ŲØŁŽŁ‚ŁŽŁŠŁ’ŲŖŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁ‰ Ł‚ŁŽŲ§ŲØŁŁ„Ł Ł„Ų£ŁŽŲµŁŁˆŁ…ŁŽŁ†ŁŽŁ‘ Ų§Ł„ŲŖŁŽŁ‘Ų§Ų³ŁŲ¹ŁŽ ŁŠŁŽŲ¹Ł’Ł†ŁŁŠ ŁŠŁŽŁˆŁ’Ł…ŁŽ Ų¹ŁŽŲ§Ų“ŁŁˆŲ±ŁŽŲ§Ų”ŁŽ
    Rasulullah saw, telah bersabda, ā€Jika aku masih hidup sampai tahun depan (12 H), niscaya aku akan shaum tanggal sembilannya yaitu hari Asyuraā€ (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:224, No. 344; Muslim, Shahih Muslim, II:798, No. 1135)

    Rasululah saw. sendiri tidak berkesempatan melaksanakan shaum tanggal sembilan Muharam di tahun itu (12 H), tetapi rencana beliau untuk melaksanakannya membuktikan bahwa shaum di tanggal itu telah disyariatkan.
    Dari keterangan tersebut jelaslah bahwa pada mulanya saum sunat muharram hanya dilaksanakan satu hari tanggal 10 muharram yang disebut Asyura. Namun untuk membedai kebiasaan Jahiliyah, Yahudi atau Nasrani Rasulullah saw. memerintahkan agar kita melakukan shaum sehari sebelumnya yaitu tanggal sembilan Muharam yang disebut Tasuā€™a. Sehingga pelaksanaan saum sunat muharram disyariatkan dua hari tanggal sembilan dan sepuluh bulan Muharam yang disebut saum Tasuā€™a-Asyura.
    Demikianlah bentuk penghormatan dan cara menyikapi hari Asyura sesuai Sunnah Rasulullah saw.
    Mudah-mudahan apa yang dikemukakan ini menjadikan motivasi untuk melaksanakan sunnah Nabi Saw., sehingga dapat melaksanakannya sesuai dengan ketentuan yang semestinya.

    Catatan:
    Pada tahun ini (1435 H), 9-10 Muharram tahun ini jatuh pada hari Rabu-Kamis, bertepatan dengan tanggal 13-14 Nopember 2013 M.


    Oleh Ust. Amin Saefullah Muchtar

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    trikblog.co.cc